![]() |
| The Name of Allah (Photo by Vahid Moeini Jazani on Unsplash) |
Banyak kejadian-kejadian orang lain yang kisahnya sangat mirip sama gua, ada banyak juga kesedihan orang-orang yang diluapkan, ada juga rasa marah, ada banyak emosi yang tertumpahkan dari macam-macam orang dengan kisah mereka masing-masing. Dan yang bikin gua tertarik adalah, banyak juga yang memberikan nasihat.
Ada satu konten nasihat yang bener-bener melekat buat gua sampe gua jadiin wallpaper HP, dengan headline "Doanya masih sama. Tapi kali ini, mungkin pasrahnya perlu diperbesar", begini bunyinya
Simplenya, doa itu tentang menitipkan harapan dengan tangan yang terbuka. Siap menerima apapun jawabannya, entah dalam bentuk "Iya", "Nanti", atau "Ganti yang lebih baik". Karena ternyata, yang paling bikin lelah dari berdoa itu bukan lama menunggu, tapi lama bertahan dari rasa "Pokoknya harus sesuai keinginanku".
Terus lanjutannya
Doanya si mungkin masih sama persis, entah soal rezeki, jodoh, atau bahkan mimpi yang belum tercapai. Tapi bedanya, kita sekarang datang dengan pasrah yang lebih dewasa. Pasrah bukan berarti berhenti berusaha / berharap. Tapi pasrah dengan maksud kalo Sang Pemberi lebih tau mana yang terbaik, pasrah buat berani bilang "Aku tetap minta ini Ya Rabb, tapi kalo ada rencana-Mu yang lebih baik, aku siap terima kok". Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukan saat doa kita terkabul sesuai keinginan, tapi saat kita merasa tenang dengan apapun keputusan-Nya.
Sejujurnya konten di atas sangat berdampak buat gua. Walau semua ini berat karena gua masih sayang banget sama Tiara, tapi saran di atas bakal lebih sehat ketika gua bisa menerapkannya. Gua tetep berharap dan berdoa atas harapan gua, tapi gua harus lebih percaya atas kehendak dan rencana-Nya yang udah disiapkan buat gua nanti.
Terus ada pertanyaan besar, sampai kapan nih gua memberi batas berharap? Sampai kapan gua mencintai dan menyayangi Tiara secara sehat tanpa memaksakan kehendak gua? Gua menemukan konten lain yang menjawab ini semua, begini bunyinya
Mau sampe kapan kamu menunggunya?
Kemudian dijawab
Selagi Allah masih memberiku rasa cinta untuk dirinya, maka selama itu aku akan menyukainya.
Singkatnya, karena gua saat ini masih mencintai dan menyayangi Tiara, gua akan menjalani hidup gua sebagaimana mestinya tanpa harus merasa terbebani.
Dua konten yang gua sebutin di atas bener-bener kombo maut untuk membantu gua menjadi lebih tenang. Sebelumnya gua belum tau gimana cara membatasi rasa kehilangan dan rasa mencintai yang besar ini. Sebelumnya gua juga belum tau gimana cara berdoa dan berharap yang benar kepada Allah. Sebelumnya gua juga bertanya-tanya tentang tenggat waktu gua harus mencintai dan mengharapkan Tiara. Sekarang semuanya udah terjawab. Gua perlu percaya dengan rencana & skenario yang Allah berikan dan juga selama gua masih ada perasaan mencintai Tiara, maka biarkanlah perasaan itu berada di hati gua, biarkanlah perasaan itu menetap di situ terlebih dahulu.
Gua berharap dengan kesadaran yang baru ini, gua mendapat kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi semuanya dan juga semoga lekas berkurang gejala-gejala fisik yang muncul, yang sangat menyiksa itu. Karena tantangan terbesar gua adalah membayangkan kalo Tiara bisa bahagia bersama pria lain, yang mana bukan gua. Itu hal terberat. Tapi semua akan gua hadapi dengan menyerahkan segalanya kepada Allah.
Oke mungkin itu dulu aja tulisan gua kali ini. Kayanya tulisan ini jadi salah satu tulisan terpanjang dan terserius gua, entah kapan terakhir gua nulis yang panjang dan serius kaya gini. Selain itu, gua ga nyangka juga, blog yang gua bangun dari lama akan sangat berguna banget di tahun 2026 ini untuk menumpahkan segala perasaan yang sedang gua rasakan. Blog ini bener-bener mempermudah gua dalam mengekspresikan apa yang gua rasa.
Ok gua cukupkan, kita ketemu lagi di tulisan selanjutnya ya.

0 Komentar